3.27.2013

Rumah dan Sahabat

Apabila manusia kebanyakan mempunyai kegemaran menonton film, entah itu di sebuah gedung yang terlalu gelap dan dingin dengan layar lebar serta sorot cahayanya atau hanya di kamar sepetaknya dengan sebuah piringan seharga 7.000 perak lengkap dengan pemutarnya yang tanpa nama, sama halnya dengan dia. Hampir semua orang mengagumi sosoknya, ya hampir, selain dia sendiri yang sama sekali tidak kagum pada dirinya yang telah mempunyai satu ruangan khusus di tempat tinggalnya untuk berbagai piala penghargaan atas karyanya. Dia adalah bagian terpenting yang membuat para manusia itu menggemari film, dia adalah seorang yang selalu mengkomentari sebuah film atau mereka namakan kritikus film yang namanya lebih dikenal daripada seorang pemimpin negara di sebuah negeri kaya raya yang terdiri dari pulau-pulau dengan nama ganjil.

         Sudah bertahun-tahun dia menulis, berkata, atau mengetik rangkaian kata untuk hanya memuji atau mencemooh sebuah film. Anehnya, bertahun-tahun pula orang rela mengupahinya dengan nominal yang tak masuk akal hanya untuk mendapatkan kritikannya. Dengan kekayaannya, dia memutuskan untuk tidak mempunyai sebuah rumah. Mungkin memang benar adanya pendapat yang mengatakan bahwa seorang seniman memiliki sifat yang nyentrik, itupun apabila dia bisa dikatakan sebagai seniman. Dalam setahun, dia bisa berpindah-pindah tempat tinggal hingga tak terhitung lagi dengan jari. Suatu kali pernah ditanya akan kebiasaannya ini dan dengan lugas dia menjawab “karena saya tidak pernah tahu apa yang mereka sebut rumah, bagi saya rumah itu tidak pernah ada”


Dengan segala keahliannya menilai sebuah film, tidak ada yang tahu akan rahasia terdalamnya. Rahasia yang tidak pernah diceritakannya saat diundang ke sebuah acara atau saat duduk bersama sahabatnya dengan kopi yang tersaji di meja, karena sebenarnya dia tidak pernah mempunyai sahabat. Selain tidak tahu rumah itu apa, sahabat adalah kata yang dia tidak ingin tahu artinya apa. Rahasia itu dia simpan sendiri, bukannya takut apabila yang lain tahu, namun dialah sendiri yang tak mau mengakuinya. Dari ribuan film yang mendapatkan komentarnya, tak ada satupun yang ditontonnya dari awal sampai akhir. Dia hanya menonton bagian trailernya, bagian 5 menit awal, dan 5 menit akhir. Itu yang selama ini dia lakukan, sama halnya dengan prinsip hidupnya yang tidak pernah ingin mengetahui suatu fakta secara menyeluruh, hanya sebagian.

Rasanya baru 31 hari di bulan Maret ini dia menempati tempat tinggalnya sekarang, namun dia telah muak akan isi dan aroma seluruh ruangannya. Saat itu juga dia memutuskan untuk berpindah lagi, ya untuk kesekian kalinya. Dia memulai mencari tempat tinggal melalui jaringan langganannya dan esoknya segera meninggalkan ruangan yang membuatnya mual itu.

Saat dia dibangunkan oleh salah satu pekerjanya yang selalu dengan senang hati membawanya ke tujuan yang dia inginkan, dia mengamati tempat tinggalnya yang baru. Ada perasaan aneh yang terlalu mendadak saat matanya belum sempurna membuka. Ini hanyalah bangunan yang sederhana, terlalu sederhana apabila dibandingkan dengan tempat tinggalnya sebelum-sebelumnya. Namun mengapa dia segera ingin masuk dan melihat ruangan-ruangan di dalamnya, diapun tak tahu.

Saat dia bergegas membuka gerbang, ternyata ada sambut dari seorang wanita dan anak laki-laki kecil. Dengan agak kaku, dia menjawab sambut itu karena dia tak biasa menerima orang lain di tempat tinggalnya. Wanita dan anak tersebut memiliki senyum yang semakin membuatnya merasa aneh, senyum yang tidak pernah dia lihat dari orang-orang yang dia temui sebelumnya. Bahkan dia tak enggan untuk membalas mereka dengan senyumnya, yang dia rasa lebih menyerupai seringai karena sudah sejak lama dia tak melatih bibirnya untuk menyunggingkan sebuah senyuman.

Tempat tinggal barunya ini berdampingan dengan rumah sang wanita, dengan satu halaman dan gerbang yang sama, dengan bangunan yang hanya dipisahkan oleh jarak sedepa. Sesungguhnya dia sangat keberatan dengan kondisi ini, tapi untuk kesekian kalinya dia memakluminya. Sudah lebih dari seminggu sejak pertemuannya dengan wanita dan anak laki-laki itu, namun dia terus memikirkan mereka. Dan sudah lebih dari seminggu pula dia tidak pernah keluar dari tempat tinggal barunya ini.

Saat itu hari sudah senja, waktu terbaik baginya untuk mulai menuangkan komentar baik atau kritik pedasnya akan sebuah film. Dia memutuskan untuk duduk di teras depan dengan membawa peralatan kerjanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskan pekerjaannya ini, hanya 3 menit untuk trailer, 5 menit untuk bagian awal film, dan 5 menit untuk bagian akhirnya, serta paling lama 10 menit untuk menumpahkan pendapatnya dalam sebuah tulisan yang akan dibaca oleh jutaan penggemar film.

 Dia telah duduk dan siap memulai apa yang biasanya dilakukannya, namun secara tiba-tiba si anak laki-laki itu menyapa dari teras sebelah dan berlari menghampirinya. Bagaikan ledakan senapan tentara, anak itu terus mengoceh bercerita apa saja yang telah dia lakukan hari ini dan serta merta duduk di pangkuannya. Dia sangat murka dan melemparkan anak itu dari pangkuannya, itu yang akan dia lakukan apabila hal seperti ini terjadi, namun lagi-lagi dengan perasaan canggung dan (mungkin) senang, dia memperbolehkan anak itu terus duduk di pangkuannya dan mendengarkan secara seksama kata-kata yang menggebu-gebu dari sang anak. Dia kembali tersenyum, senyum yang jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan senyum pertamanya seminggu lebih yang lalu.

 Belum selesai cerita sang anak, tiba-tiba terdengar suara lembut dari seorang wanita yang entah sejak kapan berdiri di samping mereka dengan nampan yang diatasnya terdiri dari 3 cangkir, 1 teko, dan 1 piring berisi kudapan dengan aroma yang harum seperti baru saja dipanggang. Wanita itu kemudian menuangkan teh ke cangkir yang ada dan mempersilahkan dia untuk meminumnya. Tentu saja si anak laki-laki tadi masih terus bercerita sembari mengunyah kudapan yang ada, yang dilanjutkan dengan permintaan maaf dari sang wanita karena kelakuan anaknya yang sangat gemar bercerita. Sungguh ini merupakan distorsi terbesar selama hidupnya saat dia ingin menyelesaikan pekerjaannya, tapi kembali dia hanya bisa menikmati setiap detik bersama si wanita dan anaknya itu. Dan sungguh, ini adalah rasa teh dan kudapan terbaik yang pernah dia nikmati.

 Si wanita selanjutnya bertanya apa yang sedang dia lakukan dengan berbagai alat-alat yang ada di meja tersebut dan dia menjelaskan mengenai pekerjaannya. Secara bersamaan si wanita dan anak laki-laki itu kagum dan bertanya apakah boleh mereka menemaninya untuk menonton sebelum dia menilai apa yang ada di film itu. Tanpa berfikir dia meng-iya-kan, mungkin memang dia sudah tidak mampu berfikir lagi saat ini karena tidak pernah sebelumnya dia bekerja dan ditemani oleh orang lain. Lalu mereka menikmati film itu bersama, 128 menit tak terasa saat terlihat di layar terdapat tulisan Fin. Dengan penuh semangat si anak bertepuk tangan yang diikuti dengan senyum dari dia dan si wanita.

 Tak lama setelah itu si wanita berpamitan karena tak terasa senja telah tiada dan berterima kasih karena telah mengizinkan untuk menonton sebuah film bersama si anak laki-lakinya. Si anak tersebut kemudian meraih tangan dia dan menciumnya lalu mengucap salam perpisahan. Tinggallah dia sendiri, duduk termenung mengembalikan ingatannya akan 128 menit terbaik dalam hidupnya. Ini adalah film pertama yang dia saksikan dari awal sampai akhir. Ini adalah kali pertamanya dia menikmati teh dan kudapan yang luar biasa lezatnya. Ini pertama kalinya dia merasa tidak akan pernah bosan dan muak akan tempat tinggalnya. Ini pertama kalinya dia merasa nyaman dengan 2 orang sekaligus. Dan ini pertama kalinya dia berucap syukur kepada sang penulis takdir. Akhirnya, dia mempunyai sebuah rumah dan 2 orang sahabat di dalam hidupnya. Fin.

-RPAA, Lubuklinggau 17032013-

3.25.2013

Rejection

It's never be easy to accept the rejection, even the underlying of that rejection were totally right.

Now, back to yourself how to define that rejection.. Will you just sad and sorry for what you did or take a good step to make the rejection become acceptance.?

-Lubuklinggau, 25032013-

1.04.2013

Apa Kabar, Mam?


Hujan kembali datang malam ini. Begitupun dengan rindu ini.
Tanpa ada pertanda, hanya rasa yang sama.

Aku ingat akan pesanmu. Saat itu hujan menyapa bumi yang ditemani panggilan Gusti Allah pasca senja.
Seketika kau berucap: ‘Bersandarlah dan panjatkan sujudmu hanya untuk Allah, yakinlah agar mimpimu suatu saat akan menjadi kenyataan.
Saat ini hujan Nak, yang berarti berkahNya berlipat ganda.
Maka pergilah berwudhu dan sampaikan pujianmu hanya untukNya.’

Bahkan pesanmu itu yang selalu membuatku mencintai hujan, walaupun banyak manusia lain yang berkeluh kesah.
Ya, aku percaya bahwa diantara jutaan rintik hujan, terselip jawab atas pintaku kepadaNya.

Dari sekian banyak pintaku kepadaNya, ada satu hal yang sering kali kuucapkan dalam hati. Aku memohon kepadaNya agar selalu menjagamu, baik di dunia ini maupun kehidupan setelahnya.

Aku sangat merindukanmu. Rindu yang sangat sederhana dari seorang anak kepada mamanya. Rindu untuk bercerita dan mendapat tanggapan serta dukungan akan semua cita. Rindu untuk dapat mencium tangan dan meminta restu agar seluruh urusannya dilancarkan.

Terakhir kita bertemu adalah di bulan kesepuluh tahun 2012. Mungkin orang dapat berkata itu waktu yang sekejap, tapi bagiku rasanya menahun. Semoga Allah senantiasa mengirimkan malaikatNya untuk menjagamu dan mengijinkan kita untuk bertemu.

Dalam masa penantian itu, aku takkan pernah bosan untuk bertanya kepadamu dengan dukungan berbagai macam teknologi karena jarak masih merupakan jelaga.
Apa kabar, Mam? Anakmu merindukanmu.

9.20.2012

Happy Eid Mubarak

Iya, jangan protes dulu. I know it’s already September and Idul fitri has left away. Tapi ini baru ada waktu buat posting event kemaren (Ceilaah sok sibuk gitu ceritanya). No problemo lah ya  

Well, as usual hari pertama lebaran pagi-pagi buta udah harus bangun karena si teteh pulang kampung. Saya kebagian tugas buat beres-beres rumah sementara Emak sama Mbak Reni (Kakak yang keempat) is   preparing Ketupat and the gang. Abis itu kita mandi dan pergi ke masjid deket rumah. Ah ya, this is my first Lebaran in Graha Bintaro. Dulu tuh saya sama keluarga selalu solat Eid di halaman Rumah Sakit Harapan Kita yang ada di Daerah Slipi, sebelum kita pindah rumah.

New environment, new experience, and definitely new learning. Itu salah satu hal yang saya percaya. Ternyata eh ternyata kita solatnya di Masjid Bani Umar yang menurut saya designnya bagus dan nyaman. One thing that I love most of Eid prayer is seeing a lot of families with their best outfits. Walaupun sebenernya inti dari lebaran bukan itu, tapi ga ada salahnya kan wearing your best ones saat menghadap ke Gusti Allah.

Setelah solat, kita pulang ke rumah dan saya langsung buka tudung saji. Maklum makanan buatan emak selalu tempting. Dan ga berapa lama dateng kakak-kakak saya dan keluarganya, except my 2nd sister who celebrate this day in Lampung (Her husband’s hometown) and just able to talk to her by phone. 

Ritual selanjutnya ya pasti salam-salaman (tanpa sungkem, karena emang ga pernah ada sungkem-sungkeman di keluarga besar) dan rame-rame pergi ke rumah Bu De (Kakaknya Mama) di Rempoa. Dan apa yang kita temuin di jalanan? Macet saudara-saudara, but I won’t say any complain since I miss Jakarta with the whole chaotic things so bad. Nyampe di rumah Bu De, ketemu keluarga besar dari mama, dan pastinya makan lagi. Hehe. Abis perut kekenyangan dan berasa begah karena makanannya santan semua, we’re taking some pictures (Ritual wajib). Hehe.
“Ramadhan has left but never lost its spirit. Welcoming Syawal with full of good hopes and wishes. May Gusti Allah permit us to meet the holy month next year”

3.11.2012

Rumah Dijual

Halo Semuanya, Saya sedang menjual rumah.

Lokasi di Kompleks Migas 61 Kemanggisan Jakarta Barat (Dekat Kampus Binus), LT/LB 215m2/298m2, 4 Kmr Tdr, 5 Kmr Kos (Bangunan Terpisah), Dapat Dibayar 2 Kali. Harga Nego.

Apabila berminat, silahkan langsung Hubungi Ibu Elly: 085781876677, (021) 5305256.
Mohon bantuannya untuk menyebarkan informasi ini ya, Terima Kasih banyak :)